PADA masa Orde Baru, Herman dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Ia kerap menghabiskan waktu berdiskusi dengan rekan-rekan seangkatannya, membicarakan situasi sosial dan politik yang berkembang saat itu.
Herman kemudian dikenang sebagai sosok yang gigih mengkritik kebijakan pemerintah Orde Baru. Ia terlibat langsung dalam aksi-aksi demonstrasi di jalanan hingga akhirnya dinyatakan hilang tanpa kabar pada tahun 1998.
Petrus Bima Anugrah, yang akrab disapa Bimo, merupakan mahasiswa Universitas Airlangga asal Malang, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 1993, FISIP Unair.
Bimo dikenal memiliki bakat dalam bermusik, khususnya bermain gitar. Melalui medium seni musik, ia menyuarakan kritik politik bersama para aktivis dan seniman Unair. Bersama kawan-kawan aktivis FISIP Unair, Bimo turut memprakarsai terbentuknya kelompok musik Lontar Band, di mana ia berperan sebagai pemain bass.
Seperti halnya Herman, Bimo dikenang sebagai tokoh aktivis mahasiswa yang gigih mengkritik rezim Orde Baru. Keterlibatannya dalam gerakan turun ke jalan berujung pada hilangnya Bimo tanpa kabar pada tahun 1998.
Peristiwa Kudatuli
Pada 27 Juli 1996 terjadi peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) di Jakarta. Sehari setelahnya, pada 28 Juli 1996, Herman memimpin aksi massa sebagai respons atas peristiwa tersebut. Aksi berlangsung di sekitar Kebun Binatang Surabaya. Sejak pagi hari, aparat keamanan telah menghadang lokasi aksi dan menjadikan Herman sebagai target penangkapan. Namun, Herman berhasil lolos dan tidak tertangkap.
Tak lama kemudian, Herman direkrut Partai Rakyat Demokratik (PRD) untuk menjadi pengurus di Jakarta. PRD merupakan partai politik yang secara aktif terlibat dalam perjuangan demokrasi di Indonesia pada masa Orde Baru.
Keberadaan PRD membuat pemerintah Orde Baru bereaksi keras. Presiden Soeharto menuduh PRD sebagai dalang peristiwa Kudatuli dan bahkan melabelinya sebagai reinkarnasi Partai Komunis Indonesia (PKI). Tuduhan tersebut memicu gelombang penangkapan terhadap aktivis pro-demokrasi di berbagai daerah.
Situasi ini memaksa Herman menjalani persembunyian dan bergerak secara bawah tanah melalui jaringan yang dikenal sebagai PRD bawah tanah. Dalam aktivitas tersebut, Herman menggunakan nama samaran Sadli.
Hilangnya Herman
Pada pertengahan 1997, Indonesia dilanda krisis moneter yang memicu gelombang aksi mahasiswa di berbagai daerah. Namun, pada 11 Maret 1998, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) kembali melantik Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia.
Sebagai respons atas situasi tersebut, Herman bersama sejumlah aktivis pro-demokrasi menggelar konferensi pers yang mengatasnamakan Komite Nasional Perjuangan Demokrasi (KNPD). Konferensi pers itu berlangsung di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada 12 Maret 1998.
Tak lama setelah konferensi pers berakhir, Herman bersama rekan-rekannya keluar dari kantor YLBHI yang berada di kawasan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Di lokasi tersebut, Herman diculik oleh orang tak dikenal. Sejak saat itu, ia dinyatakan hilang dan hingga kini tidak pernah ditemukan.
Hilangnya Bimo
Menurut Sereidah dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), rekan seorganisasi Bimo, dalam film dokumenter “Yang Tak Pernah Hilang”, sebelum menghilang Bimo terakhir kali terlihat di sekitar Terminal Grogol, Jakarta Barat, pada 30 Maret 1998.
Senasib dengan Herman, hingga kini Bimo tak pernah ditemukan. Setelah 27 tahun berlalu, keberadaan Herman dan Bimo masih menyisakan tanda tanya yang belum terjawab. Hingga detik ini, negara belum memberikan kejelasan atas nasib keduanya.
Di tengah ingatan kolektif tentang reformasi dan demokrasi, pertanyaannya tetap menggantung: di manakah peran negara?
Penulis: Dimas Kuswantoro, LPM Berdikari, Universitas Terbuka (UT) Surabaya*
—
*Artikel ini pernah dipublikasikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, LPM Berdikari UT, dan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI)